Checklist Keuangan Keluarga ::Asuransi::

Kok jadi tiba-tiba ngomongin financial sih. Keracunan sama ibu2 pintar hihihi..
Tahun depan insya Allah Kyara mau aku masukkan ke playgroup. Jadi soal keuangan ini rasanya lagi hot-hotnya jadi topik aku dan ayah.

Waktu baru nikah dulu pake uang masih suka-suka, apalagi dulu kita berdua kerja kantoran. Seneng-senengin diri sepuasnya, boro2 mikirin buat investasi hehe.. Begitu tau hamil, mulai menata keuangan dengan target biaya melahirkan dan segala tetek bengek perintilan lainnya. Setelah Kyara lahir, mulai direncanakan biaya pendidikan dan segala macamnya. Berhubung sudah ada tangggungan istri dan anak, si ayah juga mempersiapkan asuransi jiwa.

Tapi.... sejak aktif di twitter dan follow twitnya financial planner ligwina hananto, rasanya seperti tertohok dan disadarkan. Sudah cukupkah persiapan yg kami siapkan buat pendidikan anak dari TK sampai lulus sarjana nanti? Sudah cukupkah uang pertanggungan asuransi jiwa yang kita punya? Bisa menopang untuk hidup berapa lama UP asji tsb? Udah siapin dana pensiun jugakah supaya nantinya dimasa tua ngga kesulitan keuangan dan kalo bisa sih jangan sampe ngerepotin anak-anak? dan sederet pertanyaan lainnya...
Baca artikelnya mba wina juga bikin gw buka mata sama yang namanya unitlink dan jadi kenal sama reksadana. Para financial planner itu bilang, kalo mau dapet manfaat maksimal sebaiknya pisahkan antara asuransi dan investasi, jangan digabungin seperti produk unitlink. Makanya mereka ngga menyarankan unitlink. Nah loh padahal gw juga udah terlanjur punya unitlink hehe.. Jadi.. berbekal belajar dari twit dan artikel para financial planner seperti ligwina hananto, aidil akbar, dan juga baca-baca blog mamaks pintar yang udah lebih dulu terjun di reksadana, akhirnya saya dan suami mulai menata keuangan kami, dalam hal ini yang berkaitan sama asuransi dan investasi.

Kami bukan keluarga dengan keuangan yang berlebihan, makanya perlu pinter-pinter ngaturnya. Kalo punya duit melimpah sih gak bakal pusying ya tinggal pos-posin tuh duit untuk tujuan masing-masing sambil merem hehe.. Jadi saya sebagai menteri keuangan keluarga ini mesti pinter mengalokasikan dana yang ada semaksimal mungkin. Kalo ayah mah nurut aja apa kata istrinya, dia lebih percaya saya yang ngatur. Pokoknya si ayah tinggal terima beres dan terima laporan hiahahaha...

Kenapa tiba-tiba jadi ngerasa kok kayanya biaya pendidikan yang kami persiapkan buat kyara belum maksimal? itu karena sejak ngikutin twitnya mbak wina tahun lalu dan coba2 ngitung pake kalkulator nya dia di web nya, gw merasa disadarkan bahwa jalan yang gw pakai untuk mempersiapkan dana pendidikan Kyara kayanya tidak bisa menghasilkan nilai-nilai yang muncul di kalkulator itu.
Coba deh kalo mau cek biaya yang dibutuhkan dari TK sampai sarjana bisa klik disini. Mau ngitung dana pensiun bisa klik disini. Atau ngitung uang pertanggungan asuransi jiwa yang tepat untuk kita bisa klik disini.

Jadi... saya mau bikin checklist aja buat catatan diri sendiri juga, apa aja yang sudah, belum, dan harus kami siapin terutama untuk menunjang dana pendidikan anak. Setelah tung itung itung dana pendidikan TK sampai S1 yang kira-kira akan dibutuhkan Kyara nantinya, kami mulai menata ulang cara mencapai jumlah tersebut. kadang nyesel kenapa nggak tau soal ini dari dulu, tapi better late dan never kan...

1. Asuransi jiwa
Asuransi jiwa seharusnya dimiliki oleh para breadwinner atau pencari nafkah utama dalam keluarga, entah itu suami, istri, ataupun keduanya, dan siapapun yang masih memiliki hutang (rumah, kendaraan, dll). Apabila sang pencari nafkah utama meninggal, diharapkan uang pertanggungan (UP) yang didapat bisa menopang hidup anggota keluarga yang ditinggalkan selama beberapa tahun ke depan. Dan bagi yang punya hutang banyak, jangan sampai kalo meninggal ternyata hutang tersebut membebani anggota keluarga yang ditinggalkan. menurut pendapat financial planner, jumlah UP at least bisa menopang hidup keluarga yang ditinggalkan untuk 10 th kedepan. diharapkan dalam waktu 10th itu keluarga sudah bisa berinvestasi atau bekerja atau buka usaha untuk kelangsungan hidup selanjutnya.

Contoh, kalo keluarga tersebut pengeluarannya 5juta perbulan, berapa UP yang kira2 sesuai untuk keluarga tersebut. Berarti UP yang dibutuhkan adalah: 5juta*12*10 = Rp 600juta.
Kalo pengeluaran 10 juta/bulan berarti UP yang di butuhkan sekitar 1,2M.
UP Rp 100 juta akan bermakna besar jika penghasilan kita Rp 1 juta/bulan. Namun jika penghasilan kita Rp 10 juta/bulan, UP Rp 100 juta itu akan habis dalam waktu 10 bulan.

Jadi asji ini tidak harus suami yang punya. Tergantung di keluarga itu siapa pencari nafkah dengan kontribusi terbesar. kalo si suami pencari nafkah utama dan istri ibu rumah tangga, maka jelas si suami harus punya asji. Kalo si Istri yang penghasilannya lebih dominan daripada suami, maka si istri harusnya punya asji. Kalo kedua-duanya memberi kontribusi seimbang dalam keuangan keluarganya, maka boleh aja tidak memiliki asji atau salah satu saja yang punya asji atau keduanya memiliki asji. Kalo pake contoh di atas, bila suami istri ikut asji maka UP nya bisa masing-masing 300juta. Kalo udah kaya raya duit melimpah sih gak usah punya asji juga ga apa-apa hehe...

Nah dulu itu si ayah sebetulnya udah punya asji. Tapi setelak ceki-ceki di kalkulator financialnya mba wina ternyata UP asji nya si ayah kecil ya... Asji ayah yang dulu UP nya cuma bisa menopang hidup untuk 3-4th ke depan. Itupun kalo pengeluaran stabil seperti jumlah pengeluaran sekarang. Padahal pengeluaran tiap tahun kan naik terus karena inflasi. Kalo seandainya terjadi sesuatu sama ayah, berarti UP tersebut hanya bisa menopang kebutuhan hidup 3-4 tahun kedepan. Apalagi kalo anak udah mulai sekolah, udah pasti pengeluaran bertambah tiap bulan. Kalo anaknya 2 atau 3 atau 4, wahhhh makin pusying!!

Jadi dari awal tahun ini kami udah mulai cari-cari informasi tentang asuransi jiwa berjangka (term life) termasuk minta ilustarsi dari berbagai agen asuransi. Sesuai saran para financial planner, asji jenis term life itu lebih murah preminya tapi hasil yang di dapat lebih maksimal. Cirinya term life, kalo nggak terjadi apa-apa ya kita nggak dapat apa-apa (misal nilai tunai, tabungan, dsb). Jangan pernah ngerasa duit kita hangus kalo sampe nggak terjadi apa-apa karena yang kita beli adalah proteksi. Anggap aja beli payung, kalo hujan ya dipake, kalo nggak hujan ya tersimpan rapi ngga dipake. Kalo nggak terjadi apa-apa sama breadwinner, ya syukur Alhamdulillah. Tapi kalo sampai terjadi apa-apa sama si breadwinner, keluarga bisa meneruskan hidupnya dengan UP asji tersebut.

Setelah membanding-bandingkan berbagai ilustrasi asji, kami akhirnya memutuskan memilih salah satu perusahaan asuransi yang punya produk asuransi jiwa murni (term life) yang rasanya paling cocok dengan kriteria kami. Makasih ya Ms.Tyaa yang udah ngenalin agen asuransi suamimu padaku :) Setelah di bandingkan sama ilustrasi dari asji lain, ternyata memang asji yang kupilih ini preminya paling rendah dengan manfaat paling maksimal. Tadinya hanya mau ambil UP sekian. Tapi ternyata asji term life yang kami pilih ini punya aturan minimal premi pertahun adalah sekian. Jadi ya udah mau gak mau ambil premi pertahun yang paling minimal aja, tapi ternyata UP nya untuk seumur ayah amat sangat lebih dari yang kita rencanakan, bahkan kalo dihitung-hitung Insya Allah bisa menopang hidup kami lebih dari 10tahun. Kami ambil asji termlife dengan masa pertanggungan 10 tahun. Setelah 10 tahun bisa stop atau perpanjang tergantung situasi nanti. Tapi baiknya sih selama masa produktif terlindungi sama asji ya. Kalo anak-anak udah mulai mandiri, punya pekerjaan, dan sudah bisa menghidupi diri mereka, ya nggak perlu lagi asji.

Meski UP nya besar, saya sama sekali nggak pernah bermimpi mencairkan UP itu. Artinya saya pengen bisa menikmati masa tua saya liat anak cucu bahagia sama suami tersayang. Jangan 'tinggalin' kami cepet-cepet. Tapi... kalo pun ada apa-apa (umur manusia ngga ada yang pernah tau kan) dengan ayah dalam 10th ini, Insya Allah UP asji nya bisa digunakan untuk kelangsungan hidup kami dan membiayai pendidikan anak-anak kami. Kalo saya yang meninggal duluan, Insya Allah anak nggak akan terlantar karena ayahnya adalah sumber penghasilan utama. Kalo secara bersamaan kami 'nggak ada' (amit-amit...), Insya Allah UP tersebut bisa digunakan kakek nenek nya Kyara untuk membiayai segala kebutuhan Kyara sampai dia mandiri. Jadi kami nggak mau memberatkan para eyang dalam hal keuangan.

Oiya, saya baru tau dari si agen. Kalo normal death, dapatnya tuh UP dasar. Tapi kalo meninggal karena kecelakaan, misal jatuh dari atas genteng karena abis benerin genteng yang bocor (dari penjelasan si agen, ini dihitung kecelakaan), maka UP yang didapat adalah 2 kali UP dasar. Contohnya UP dasar 600juta, maka meninggal karena kecelakaan akan dapat UP 1,2M. Lalu kalo terjadi sesuatu yang mengakibatkan cacat tetap dan bikin si tertanggung tidak dapat bekerja lagi untuk memperoleh penghasilan, maka akan dapat UP dasar meskipun tidak meninggal.

Jadi, asuransi jiwa murni (term life) untuk si ayah: done!

2. Dana Pendidikan
Liat angka biaya sekolah yang nongol di kalkulator ligwina bikin mata tuing-tuing. Kalo pake asuransi pendidikan aja nilai tersebut nggak bakal kekejar. Contohnya, saya survey beberapa bulan setelah Kyara lahir. Biaya masuk salah satu SDI swasta tahun 2008 sekitar 4juta sekian. Tahun 2010 ini aku tanya biaya masuk SDI tersebut sudah 9 juta sekian, hampir 10 juta. Itu pun belum biaya tetek bengek lainnya. Kyara masuk SD sekitar 2013 atau 2014, kalo dihitung pake kalkulator dana pendidikan nya qmfinancial biaya masuk SD tersebut akan menjadi 18juta-an. Makin puyeng... sekolah di SD inpres aja deh yuk nak...
Jadi belajar dari para financial planner, salah satu cara untuk mengejar angka tersebut yaitu dengan cara investasi di reksadana. Nah reksadana ini nanti akan di posting terpisah aja setelah ini, takut kepanjangan.
Checklist:
Dana pendidikan PG: done!
Dana pendidikan TK: done!
Dana pedidikan SD: on progress
Dana pendidikan SMP: belum
Dana pendidikan SMA: belum
Dana pendidikan S1: on progress ->> reksadana campuran

Berarti yang masih jadi PR adalah dana pendidikan untuk SMP dan SMA

3. Dana Pensiun
Dari kantor ayah udah di potong tiap bulan sih untuk dana pensiun. Tapi palingan seberapa sih nanti dapatnya. Yah nggak ada salahnya mempersiapkan dana pensiun dari sekarang supaya masa tua nanti nggak nyusahin anak, bisa tetep mempertahankan lifestyle, bisa seneng2 sama cucu :)

Dana pensiun: on progress ->> reksadana saham

4. Asuransi Kesehatan
Sebenernya dari kantor ayah udah dapat asuransi kesehatan jamsostek untuk suami, istri, anak ke 1,2,3, baik rawat jalan maupun rawat inap, dan melahirkan. Tapi liat plafonnya kurang memuaskan deh. Jadi ada rencana untuk beli asuransi kesehatan tambahan yang jenisnya asuransi murni dan cashless (sistim kartu). Yang murni tanpa embel-embel investasi atau tabungan supaya manfaat yang didapet lebih maksimal dengan premi yang lebih murah. Kyara udah punya yang cashless, tinggal aku dan ayahnya nih yang pengen beli askes tambahan. Udah minta ilustrasi dari beberapa agen asuransi, dan sampe sekarang masih menimbang-nimbang mana yang mau diambil.

5. Dana Darurat
Doh ini yang susah nih! kalo ngitung dana darurat di kalkulator ligwina juga bikin mata melotot :D
Dana darurat bisa digunakan saat terjadi musibah (sakit, kena PHK dll), membantu keluarga, dll.
Kata para FP kan kalo single dana darurat mestinya 4x pengeluaran bulanan. Menikah tanpa anak, dana darurat = 6x pengeluaran bulanan. Menikah memiliki 1 anak, dana darurat = 9x pengeluaran bulanan. Waduhhh saya boro-boro nih hihihi... Kalo ini sih masih jadi PR banget. Dana darurat kami masih mengandalkan tabungan yang meski accountnya udah dipisah, eh kadang akhirnya kepake juga hehehe...
Jadi untuk dana darurat jelas masih PR banget buat kami. Nggak akan plek ngiukutin saran para FP sih yang harus sekian kali pengeluaran bulanan, paling tidak account dana darurat yang terpisah itu nggak bolak balik diganggu gugat aja itu udah bagus hehe..

6. Dana Liburan
Selama ini kalo mau liburan ya pake uang tabungan. Liburan juga gak pernah jauh-jauh, yang deket aja. Nah sekarang kepikir untuk beli reksadana untuk dana liburan sih. Tapi utamain dana pendidikan SMP-SMA yang masih jadi PR dulu deh. Liburan ya ngumpulin dikit-dikit, nabung, yah tapi lama bener yak kekumpulnya hihihihi... :p

7. Investasi Logam Mulia (LM)
Ini baru rencana nih. Liat nilai LM yang kian hari kian nanjak naik-naik ke puncak gunung, investasi logam mulia memang gak pernah mengecewakan. Bukan emas perhiasan ya, tapi logam mulia alias emas batangan. Rasanya pengen beli dengan cara nyicil seperti pengalaman beberapa ibu-ibu lain, tapi masih maju mundur nih. Biasanya harga  turun pas pertengahan tahun karena banyak yang jual emasnya untuk biaya masuk sekolah anak. Kalo sekarang harganya lagi tinggi banget! hampir 400rb per gram nya. Ini juga masih jadi PR, moga-moga bisa tercapai dalam waktu dekat.

Oiya, terus si unitlink yang kami punya dikemanain tuh. Udah ikutan sekitar 3tahun, udah pernah memanfaatkan askesnya waktu opname di RS, udah pernah ngambil nilai investasinya juga waktu mendadak ada keperluan penting, jadi kayanya mau ditutup sayang juga meskipun saya tau menggabungkan asuransi dan investasi hasilnya ga bakal maksimal. Tapi ya sudah lah gpp, gak jelek juga. Toh kami udah pernah merasakan manfaatnya, jadi ya dilanjutkan aja karena kebetulan preminya juga ngga ngambil yang besar, kita ambil yang minimal aja hehe..

Okeh, saya udah kepanjangan ngomongin soal keuangan keluarga. Mumpung lagi mood hehe... :D
Posting selanjutnya mau ngomongin reksadana ah...

20 Comments:

  1. Mantabs ulasannya mom. Soal unitlink, saya juga gak tutup. Ditunggu ulasan reksadana nya :-)

    ReplyDelete
  2. WAH WAH..mom....infonya bagus banget.......thanks

    ReplyDelete
  3. wuih... komplit postingan kali ini..
    bisa jadi bahan pertimbanganku sebagai menteri keuangan keluarga juga :) tengkyu..

    ReplyDelete
  4. wiih ternyata .. saya belum ngapa ngapain :( .. tuulluunngg .. thanks buat pencerahannya mam .

    ReplyDelete
  5. Hemm, waduuh infonya sangat berharga nih jeng motik, terimakasih ya, sepertinya akan menjadi agenda pembicaraan sebelum tidur malam ini dengan mamahnya Kayla, hehe :D

    ReplyDelete
  6. Emang pusing mam mikirin biaya2 yg makin tinggi - terutama biaya pendidikan... Duh, zaman Luna nanti bagaimana ya???

    ReplyDelete
  7. Lengkap n jelas bgt penjelasannya, mam! Bener2 bikin melek, deh, bikin sadar klo ud ketinggalan jauuuhhhh krn br punya asuransi pendidikan aja, hihi. Tks a lot for sharing here ya jeng ;)

    ReplyDelete
  8. Motikaaa,,,ajariiinn,,ajariin,,nampaknyaudah katamnih unitlink,dana pendidikan dan asjinyaa..yihaa

    ReplyDelete
  9. bundit: aku juga masih belajar kok bund :) sip ditunggu aja ulasan reksadana nya ya abis ini hehe..

    ibuDzakyFai: sharing info mbak :)

    entik: sbg menteri keuangan keluarga kita kan mesti pinter2 ngatur yo mbak hehe..

    bunda farras: ayo mbak blm terlambat utk nyiapi semuanya, mumpung farrras msh kecil :)

    ReplyDelete
  10. smile: sama2 pas ismail hehe.. sok atuh dibicarakan sama bundanya kayla. mumpung kayla msh kecil siap2 dr sekarang :)

    bunda fisa: iya bund pusying pastinya ya ngebayangin angka2 itu.. maka itu aku nyiapin dr sekarang :)

    allisa: sama2 mama raja :) aku jg ikutan seneng kalo tulisanku bisa bikin pencerahan :) yuk mulai siapin mam,belum terlambat kok..

    ning: kaga ning.. belom khatam lah, masih belajar kok. yuk ah makanya kita ketemuan n jalan2 lagi. tar kita chit chat soal ini :D

    ReplyDelete
  11. wah udah terlanjur ikut yg unit link neh,tp gpp jgn ditutup dulu..kebetulan aku jg skg ge nyari asji yg termlife dan asuransi pensiun,boleh ngga minta contac person agennya? by email kie2_rn@yahoo.com

    ReplyDelete
  12. postingannya berkualitas banget nih
    bisa balajar banyak...
    meskipun belom berumah tangga
    kalo sudah mandiri secara finansial kayaknya perlua juga yaa

    ReplyDelete
  13. hehehe..biaya emang selangit ya, ga cuma biayasekolah aja tp juga biaya les-les yg biasanya lebih mahal dr uang SPP sekolah hiks....oh ya motik, aku dr dulu pengen cobain beli logam mulia, dimana siy itu tempat belinya..aku masi blank.

    Tahun kmrn aku dikasi papa azka website perencana keuangan, aku liat2 dan niat mo dijalanin eh ternyata udah 1 th ga dikerjain juga padaal penting nyiapin dr skrg terutama biaya hidup setelah suami pensiun nanti, kan pasti lebih besar.

    Selama ini aku investnya ke perut mulu alias wiskul dan jalan2...duhduhduh...

    ReplyDelete
  14. buat catatan saya kalau sudah bekeluarga nanti :)

    ReplyDelete
  15. bunda azzam: oke bund, nanti aku kirim via email ya... tunggu aja ya bund...

    elsa: justru dimulai dr sekarang sebelum berumahtangga mbak. aku aja nyesel kenapa nggak mulai dari dulu saat keuangan lebih leluasa ngaturnya :)

    vera: aku juga pengen beli
    LM tapi belum kesampean nih mbak. kmrn ini ada rejeki lebih pengen tak beliin LM, tapi ternyata harganya lagi naik banget jadi kluar budget deh. Kayanya biar ngga berat pengen sistem nyicil aja mbak. ada di pegadaian syariah, mereka terima beli emas dengan cara nyicil. kalo mau cash bisa beli ke antam langsung atau toko emas terpercaya aja mbak. kalo mau cek di website logammulia.com, goldgram.com.
    hihihi sama nih mbak ver, aku juga investnya wiskul mulu, nambah nduttt perut aja :D

    ReplyDelete
  16. salam kenal mom...tamu baru neh..lengkap bener yaa penjelasannya,jd mikir utk investasi di RD..tfs:)

    ReplyDelete
  17. Mam..boleh share pilih asji mana ?

    ReplyDelete
  18. yetty: suami ambil asji m*nulife mam...

    ReplyDelete
  19. Motik, thank you info nya jd PR gede banget yak mengenai checklist kebutuhan keluarga.

    ReplyDelete
  20. salam kenal mba :)

    wah pas banget nih pas browsing askes cashless dapet info disini,berguna banget mba :)

    btw, boleh tau askes cashless (sistem kartu) yg dipake apa mba?

    terima kasih sebelumnya

    -pima bunda daris-

    ReplyDelete

Powered by Blogger.